Differensiasi Cinta dalam Awal Khusnul Khatimah

Differensiasi Cinta dalam Awal Khusnul Khatimah

Differensiasi Cinta sebagai Awal Khusnul Khatimah

Re-diary: Jum’at, 27 Juni 2014 [29 Sya’ban 1435 H], 21:09 WIB (D-2 Ramadhan)
Catatan pertama tentang kejujuran hati dan keseriusan yang mengawalkan akhir yang baku

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pada hari ini, aku mulai membuka seluruh misteri yang selama ini menjadi pertanyaan untuk seluruh orang, termasuk pada diriku sendiri. Mungkin ini bukanlah yang pertama dapat ku ucapkan secara langsung (walau melalui pesan instan/ chatting), namun menjadi yang pertama kalinya dapat aku ucapkan sepanjang sejarah perjalanan hidup pada seseorang yang aku anggap sebagai penolong kala aku membutuhkan perannya. Seluruh perasaan, jiwa, raga dan daya yang aku simpan dan aku miliki harus aku lepaskan demi kebaikan dan untuk meredam misteri yang ku anggap masih menjadi satu kelabuan.
Dan hal itulah yang menjadi dasar aku mulai menyatakan perasaanku yang sebenar-benarnya setelah mendapat bayangan akan tentang orang tersebut, yang masih memutarkan kepalaku di dalam ruh itu. Aku melakukan hal tersebut secara bertahap agar tidak ada kesalahpahaman di antarakan kita.
Selama perjalanan ini, aku hanya membutuhkan satu sistem diferensiasi dari setiap orang yang aku kenali. Bukan karena materi atau kelihaian dan/ atau bakat yang dirinya akan memiliki, namun perasaan akan menerima apa adanya, qana’ah, ikhlas dan tulus menjalankan kegiatan tanpa melihat materi (termasuk persahabatan antarakelompok/ geng, dsb), itulah yang pada setiap orang harus dimiliki. Bukan juga pada hijabnya semata ataupun akan pelaksanaannya hingga kini, namun perasaan yang tulus ikhlas dan dapat berkonsekuen dengan hati serta dapat saling menolongkan, mengingatkan dan menasihati menjadi arti penting satu hubungan antarateman dan antarasadudara dalam ukhuwah Islamiyyah. Dan inilah yang mendasariku untuk memilih dan menilai seseorang dengan sebaik mungkin dan menjadi adil akan perasaan yang seutuhnya.
Dia adalah Meutia Qoonita Noviyani, rekan sekelasku di Teknik Telekomunikasi Universitas Telkom, yang menjadi perhatianku sejak pertama kali bertemu dalam masa perkuliahan ini. Mungkin seluruh orang akan terkejut akan pernyataan yang aku ungkapkan demikian, namun pada akhirnya dengan khusnul khatimah, aku harus melepaskan seluruh isi daya yang aku miliki agar tiada beban yang memikulku kembali pada hari-hari ke depan.
Maka inilah jawaban yang harus dapat aku simpulkan sebagai akhiriah misteri yang terjadi selama ini. Walaupun dirinya juga mengetahui bahwakan aku mempunyai perasaan suka kepada rekan-rekannya dan rekanku demikian sebelum dirinya, namun ini akan menjadi pintu estafet baru bagiku untuk terus menempuh perjalanan ini demi kebaikan dan menjaga kepercayaan dan tanggungjawab yang besar bukan hanya untuk seorang saja. Aku tetap akan menjaga dan menyayangi dirinya sebagaimana perlakuanku yang sama dengan orang-orang sebelum dia, agar dapat bertutur kata yang baik dan mau menerima seseorang yang tanpa pandang bulu apa adanya.
Maka demikianlah aku menyatakan perasaan tersebut dengan sejujur-jujurnya agar aku dapat melaksanakan seluruh tugas yang ada dan menanti ini dengan khusnul khatimah dan dapat memberikan hal yang bermanfaat untuk seluruh orang tanpa melihat apa yang kurang baik/ kurang berkenan dariku. Dan orang-orang yang berpikir dan berakal yang dapat menerjemahkan hal positif bukan untuk pamer (riya’) dan memberikan penguatan semangat dan daya yang bermafaat bagi sesama dan membuat mereka mengetahui apa yang mereka kerjakan dan bukan hanya perkataan saja, melainkan mereka menjadi berpikir apa yang seseorang kerjakan namun mereka tidak mengetahuinya. Hanya Allah yang mengetahui hal demikian agar mereka selalu berpikir positif dan netral terhadap posisi dan menjadikan mereka orang berakal agar mereka dapat kembali kepada Engkau dengan jalan yang benar dan khusnul khatimah lalu bersyukur dengan segala kenikmatan dan kebarakahan yang Engkau berikan.
And it’s first time what I should do:
Aku sayang kamu, Mutia. Aku berharap kamu dapat mengerti perasaanku kini yang mungkin tidak lagi berbentuk dan aku tidak meminta-minta (seperti seorang pengemis) untuk menjadi pacar dari dirimu, namun menjadi pelindung dan sahabat yang saling memahami, saling mengerti, saling berbagi dan saling menasihati pada hal-hal kebenaran untuk kemaslahatan umat. Wainna Insyaallahu Lamuhtadun, sesungguhnya jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan memberikan petunjuknya. Waqullahuma Qaulan Karima, maka bertutur katalah yang baik pada orang tuamu. Hal ini juga berlaku kepada sesama umat muslim yang lain.
Pun, karena kini memasuki waktu menuju bulan yang paling suci, yaitu Ramadhan, maka aku mengucapkan maaf kepada dirimu kala aku pernah berbuat salah dan pada kata-kata yang tak berkenan bagimu. Bukan untuk menyakiti hatimu, namun ingin memberikan yang terbaik walaupun Allah-lah yang menentukan waktu yang terbaik dalam ke-khusnul khatimah-an. Semoga dengan tulisan ini menjadikan dirimu lebih baik bukan karena aku mengucapkan, namun karena kamu memahami arti diferensiasi sebagai orang yang paling kuat.
Selamat menunaikan ibadah qamariyyah Ramadhan 1435 H, Meutia. Aku tetap akan menjaga perasaanku dan berlaku sama untuk siapapun. Dan jadilah yang terbaik darimu sebagai gadis yang teristimewa di hadapan Allah setelah khusnul khatimah.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Re-Diary: Kamis, 03 Juli 2014 [05 Ramadhan 1435 H], 17:00 WIB (D+5 Ramadhan)
Catatan kedua tentang arti cinta, sayang dan keikhlasan dalam perbedaan setelah penyesalan
Hari ini mungkin menjadi berbeda sekaligus menyimpan segala isi yang selama ini aku simpan. Mengapa? Untuk pertama kalinya aku dapat melepaskan seluruh daya yang aku punya selama ini tanpa merasakan beban untuk melakukannya.
Dan itu terjadi pada 2 fasa dan aku akui bahwa lingkaran yang selalu aku putar setiap hari ternyata hanya menghasilkan satu lingkaran baru, hasil penggabungan seluruh lingkaran lama dan penyesuaian lingkaran baru. Lingkaran yang mana? Setiap aku membuat lingkaran, aku selalu bertannya, berkonsultasi dan bercerita (curhat) kepada seorang temanku yang selama ini menjadi penasihat kala aku sedang buntu meyelesaikan suatu persoalan. Lingkaran terpusat itu adalah temanku yang selalu menjadi tempatku curhat. Sementara lingkaran pembentuknya adalah orang-orang yang pernah aku temui dan aku kenali dengan perlahan, walau tidak dapat mengartikan sesungguhnya dengan pasti apa dibalik lingkaran pembentuk itu.
Ringkasnya, setelah seluruh hal berjalan, celah lingkaran terpusat pun muncul secara tiba-tiba dan membuatku mencari sendiri apa isi celah tersebut. Dan pada akhirnya aku harus merasakan perlepasan daya yang sangat besar. Yaitu menceritakan sekaligus mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada dirinya, seorang teman yang aku sudah jadikan tempat untuk bercerita dan curhat selama perkuliahan, Meutia Qoonita Noviyani.
Inilah akhir perjalanan pertamaku untuk melepaskan daya itu dan memulai kembali cerita dengan dirinya, penyesalan yang membangkitkan asa. Maka, aku berdo’a kepada Allah agar aku tetap berada dalam keadaan khusnul khatimah hingga akhir nanti. Penyesalan memang selalu datang terakhir, namun itulah awal kebangkitan untuk menggapai asa dan kembali fokus pada keabadian yang nyata.
Kini dia bercerita dan menasihatiku secara gamblang mengenai makna cinta, sayang dan keikhlasan. Sedari diri, kita menyadari bahwa kita masih seorang bocah, masih menjadi anak-anak, dan belum memahami apa makna cinta, sayang dan keikhlasan yang mengaitkannya. Dengan itulah dia berkata, lebih baiknya kita berusaha, mengikuti alur yang sedang dibuat Allah untuk kebaikan kita dan mengenali bahwa seorang teman yang paling baik dan sejati adalah yang saling menasehati, saling mengingatkan, saling tolong-menolong, dan tidak pernah meminta apapun, kecuali keikhlasan kita untuk membantunya. Dia juga menasehati agar aku dapat melepaskan seseorang yang aku suka pertama kali dalam perkuliahan dan mencoba untuk focus kepada seorang gadis yang baru aku kenal, untuk segera berta’aruf dan dapat mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.
Berat sebenarnya untuk dapat melakukan hal tersebut, namun demi kebaikan bersama, dengan ikhlas harus aku lepaskan gadis pertama itu dan segera berlari mencari gadis terakhir yang aku sukai setelah berkenalan itu, lalu membangun kembali semua jaringan yang sempat terputus sebelumnya.
Inilah kalimat yang dia lontarkan yang menjadi tumpuanku agar segera kembali dapat mengungkapkan ihwal yang akan aku ucapkan, dan mendapatkan dua orang gadis terbaik yang tidak ingin aku lepaskan karena hebatnya perasaan batin dalam diri yang tak ingin kehilangan.
Bukan ingin menjadikan mereka sebagai pacar, namun menjadi teman yang dapat membangun persamaan dalam perbedaan. Dan hanya itulah aku dapat mengungkapkan, agar aku dapat kembali kepada kebenaran. Segala perkara telah aku kembalikan kepada Allah dan biarlah Allah yang berkehendak atas usaha kita.
Dan itulah yang aku ungkapkan tentang cinta dan keabadian kepadanya sebagai “Persamaan Differensial”, melengkapi sebuah persamaan yang memiliki differensial tak hingga menjadi satu persamaan (ide) baru dalam cinta yang sejati.

Proud to be best, Lia Hafiza and Meutia Qoonita Noviyani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *