Diskretasi Sinyal Cinta dan Transformasi Differensial pada Satu Hampiran

Diskretasi Sinyal Cinta dan Transformasi Differensial pada Satu Hampiran

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Wednesday, November 19, 2014 [26 Muharram 1436 H], 21:31

Pada cerita ini, aku merasakan suatu gejolak perasaan yang kemunculannya bagaikan sinyal yang hanya bergerak antara 0 dan 1, seakan seluruhnya hanya terjadi pada dua kondisi diskret yang terkontinu. Memang, pikiran ini mulai melayang di antara 3 buah jawaban yang jika didekatkan atas satu hampiran, selalu mendekati bilangan nyata (atau istilahnya imajiner yang dibuat menjadi real). Dan kekisahan ini pun seakan menjadi yang terbaru (latest updates) dalam mencari satu jawaban yang nilai real-nya adalah hampiran atas sekitaran orang yang menjadi pilihan tersebut, plus dengan satu klausa yang menjadi juru kunci bagaimana kekisahan ini dapat terjadi.
Aku masih harus menimbang dengan cukup rapi dan hati-hati dalam menentukan pilihan di antara Meutia Qoonita Noviyani, Novita Yusnia Tri Handayani, Vivin Fauziah Ramadhani dan Yuni Rizki Linggasari (asisten RL). Pilihan ini dianggap cukup menyulitkan dan tentu membutuhkan jawaban ekstra untuk dapat menyelesaikan (meng-clear-kan) persoalan tersebut.
Pilihan yang menjadi kian sulit di antara mereka yang aku anggap baik dan cukup mumpuni, walaupun masih harus melakukan koreksi untuk menuju perubahan yang lebih baik. Dan bagiku mereka adalah orang-orang pilihan yang mampu dan cukup paham. Hanya saja butuh waktu dan keterampilan untuk membuat satu gebrakan baru dan menjadi jalan awal untuk mendekatkan hampiran tersebut.

Tapi, pikiran pun mulai terbuka bertahap dan aku mulai mencari hampiran yang rupanya sangat dekat tersebut. Memang, setelah aku menyatakan perasaan kepada Meutia sehari sebelum bulan Ramadhan 1435 H (Juni 2014), sekejap pun seluruh sendi kehidupan berubah 180 derajat. Tidak ada alasan khusus mengapa aku sempat memilih dirinya, namun hanya satu yang aku dapat ringkas. Persamaan Differensial. Mengapa? Sebab ada dua ordonal yang aku temukan pada dirinya, yakni kerajinan (bukan KTK seperi zaman SD) dan akseptabilitas pada personal yang baik serta persamaan sikap dan langkah yang terintegrasi, termasuk jika memang bahwa seorang lelaki ingin mencari perempuan yang sikapnya mirip dengan ibundanya, walaupun hanya sebagian yang dianggap benar. Dan hal kedua lah yang akhirnya menyergapkan aku pada sikap seorang Meutia, persamaan dengan almarhumah ibuku. Why? Hanya ordonal kedualah yang dapat membuktikan atas klausul ordonal pertama. Jika hanya menggunakan ordonal pertama, maka harus mengulang kembali bentuk persamaan differensialnya untuk membuktikan sistemasi ordonal keduanya. (khusus ini matematikanya sedikit meruncing pada hampiran, Don’t try this at home)
Dan kini jawaban sinyal tersebut mulai muncul kembali untuk dapat menyatakan hal yang sebenarnya kepada Meutia dengan sejelas-jelasnya. Sekalipun mudah untuk terbiasa berbicara dengannya, namun seluruhnya menjadi sangat sulit untuk diaplikasikan, walaupun hanya soal perasaan yang tak biasa dengannya. Sebab kami hanya lebih sering berbicara tentang orang yang bukan dirinya hanya untuk mendapatkan nasehat yang baik (sedikit kaget pada awalnya dan membuat dirinya sempat bergejolak sesaat, namun inilah yang tak bisa dibuatkan imajineritasnya. Don’t try this at home).

Satu lagi yang membuatku juga dapat menemukan sinyal baru hasil pemekaran persamaan differensial tersebut. Yaitu sang asisten laboratorium SE-RL, kak Yuni Rizki Linggasari. Mungkin awalnya pun secara tak disengaja dengan isengnya, namun tak disangka pula dapat bertemu dan tatap muka dengannya. Yaks, inilah yang membuatku sempat tak dapat konsentrasi setelah tahu tentang dirinya secara bertahap, yakni saat mengawas ujian tengah semester pada Rabu, 15 Oktober 2014. Itulah awal pertemuan yang di-ordonal keduakan atas pertemuan yang diisengkan tersebut. Rupa pun bernada sama, bahkan tersayup samar-samar dengan seorang lain yang aku anggap sama, walaupun sang asisten ini hanya berbeda satu angkatan ke atas dariku.
Tapi, itu tak menjadi persoalan karena terbiasa menghadapi hal yang demikian. Maka, seiring waktu pun, aku mulai bersikap dengan berbicara hal teknis dan belum menyentuh hal-hal luar yang sudah biasa diperkenalkan orang kebanyakan. Karena kak Yuni merupakan asisten, setidaknya kewajaran bersikap dan diselingkan dengan cerita dan candaan tetap menjadi hal yang umum dalam berbicara dan ujungnya dapat ‘kecipratan saham’ yang valuasinya sama. Dan itu candaan kepadanya agar dia tetap baik hati dan setia (huhuiiiiiiiiiii).
Pun aku menyadari serumit apapun tetap jalani hal yang sudah ada, jika ingin mengenalkan pada yang lebih intens (istilahnya mulai serius), penghadapannya pun juga seserius mungkin (karena masa kuliah, jadi seriusnya disantaikan dulu). Aku yakin, walaupun hanya sekadar iseng berpapasan dan terus-terusan, namun aku hanya ingin mengungkapkan yang sebenarnya.
Dan (mungkin) satu kertas umpan balik (feedback) pun akan berubah menjadi surat (cinta) pribadi yang takkan dapat ter-translasikan sekalipun hanya menjadi bahan prize out untuk seorang perempuan yang masih baru dikenal. Inilah masa-masa memperkenalkan diri dengan cara yang dianggap sedikit tak wajar, namun ketakrasionalan itu akan menjadi yang paling nyata bagiku, selaras dengan isi jawaban yang pernah aku tuliskan bahwa keirrasionalan itu lebih banyak menjadi nyata dibandigkan nilai real-nya (jangan dibahas karena kompleksitas nilai Re dan Im bilangan rectangularnya tak dapat dijalankan, don’t try this at home)
Tetapi, aku berdo’a, agar kak Yuni dapat membaca isi surat tersebut tanpa merasa “disturb” karena suatu hal, agar dapat terus berusaha menjadi insan yang lebih baik dan dapat saling bersama dalam segala hal, sekalipun berbeda entitas dan umur.
Pun (mungkin) ini menjadi jalan awal bagiku untuk mencari seorang insan perempuan yang lebih mengerti dan paham dengan ketakrasionalan yang sebenarnya di depan mata, termasuk kepada Meutia dan kak Yuni.

Kini, ku mulai merasakan leburan di antara dua jawaban yang sudah ada. Namun, mungkin berat ketika akan memutuskan satu jawaban dari berbagai hal yang sedang terjadi. Salah satunya, Vivin Fauziah Ramadhani. Ya, sang perempuan berjilbab dengan gaya muslimah yang sebenarnya (dalam artian muslimah yang mengikuti syari’ah agama), suka menggunakan rok cukup panjang plus pakaian yang sama panjangnya, yang merupakan orang Padang Panjang (PPG), Sumatera Barat itu yang membuatku melayang dengan tak hingga karena tak dapat berucap lebih tentang kekagumanku pada dirinya. Asa impian imajinasi pun mulai muncul di benak pikiranku. Andaikan jika hal itu akhirnya terjadi, mungkin aku merasa bersalah sebabkala selama ini tidak dapat mencari ‘jarum dalam jerami’ yang sebenarnya juga tak berbeda signifikan (klausul ungkapan kesalahan masa lalu).
Dia yang juga anak USBM (Kelompok Mahasiswa asal Sumatera Barat) dan Rohani Islam versi kampus (Al-Fath Universitas Telkom) itu ternyata membuahkan jawaban kalau aku dapat meminangnya secara adat dengan klausul yang sudah ada (secara adat). Mungkin akan menjadi dua versi leburan yang jarang ada, sekalipun aku tidak asli orang Padang Kota karena asli Jakarta sehingga menjadi campuran dalam perpaduan budayanya.
Impian atas hal tersebut muncul ketika liangan pikiranku mulai tertuju untuk mencari yang sesungguhnya dengan tanpa basa-basi dalam melakukan sesuatu . Kalau aku bertandang ke rumah (kampung halaman) dia di Padang Panjang, pasti harus membawa serta orang tua dan seisi keluarga besar (yang jelas bukan bawa container saking banyaknya silsilah). Mengapa? Hal ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus perkenalan antaraanggota keluarga dalam ranah Minang. Jika dikaitkan dengan adat, cukup aku dapat meyakinkan diri untuk mengikat seluruhnya dalam satu kait yang sudah ‘tersiap pesan’ untuk masa yang akan datang. Seisi harapan antara aku dan Vivin, yang andaikan akhirnya terwujud dalam ikatan keluarga, sudah tertuang dalam ‘tersiap pesan’ yang cukup berarti jika menjadi harapan bagi seluruh anggota keluarga. Dan pertandangan pun dapat berlaku sebaliknya dalam hal ikatan silaturahmi. (dengan versi sistem yang sama)
Jika menggunakan transformasi interpolasi, hanya ada 3 persamaan yang terdifferensial yang baru aku temukan. Pertama, karena seluruhnya berdarah ibu sama, alias matrilineal sistem. Kedua, sama-sama dalam anggota Al-Fath dan satu kelas dalam mata kuliah (kalau hal ini karena kecelakaan salah ambil shift, kecuali Al-Fath yang memang berbeda divisi karena aku berada di posisi turun gunung (keprodian/ KM)), yang sebenarnya optional untuk menjadi persamaan. Ketiga, mungkin karena orang tua melahirkan pada bulan yang sama, yakni Ramadhan, makanya sekalian saja diberikan. Dan terjadi, nama belakangku sama dengan Vivin. Namun, hannya waktunya saja yang berbeda. Entah Februari 1995 atau 1996. (kalau ini coba tanya sendiri, karena aku jelas dalam ‘dua transendesial’)
Khusus yang keempat, karena sama-sama punya cerahan dalam hal hitung-hitungan, bisa saja sama-sama kuat, apalagi kalau Variabel Kompleks, paling encer sedunia, hehe…… (kalau ini rajin ngerjain tugas di papan tulis, wong yang bisa buka soalnya cuma berempat). Karena aku lebih meminati sistem transmisi telekomunikasi (sistranstel) dalam hitung-hitungan, mungkin aja Vivin mengizinkan aku melanjutkan program magisterial (S2) khusus transtel dan/atau matematika, biar jadi dosen yang punya dua sisi, mengajar mata kuliah yang kompleks. Sebabkala aku juga mendapat dukungan untuk lanjut program S2 karena lebih meyakinkan (ya karena aku hobi mengajar sejak SMP). Atau dia juga bisa lanjut S2 yang dia mau. (kalau ini impian setelah lulus S1 bagi siapapun yang minat punya ilmu segudang)
Yang paling aku pahami jika translasi interpolasi ini terjadi, maka premis apapun yang dibuat pasti akan bernilai positif, alias semua permintaan dan ‘lamaran’ diterima penuh. Ya, anggap saja seluruhnya terpenuhi dengan baik dan lancar. Apalagi momentum probabilitasnya merupakan momental akbar yang jarang terjadi. Pun aku berharap jika dapat merangkul Vivin dengan cara yang wajar (WTP) dan sesuai dengan jalurnya, maka jalan untuk mengenalkan seluruh organel kepada keluarga besarnya dapat terwujud.
Memang, sekilas aku hanya melihat dirinya sebagai orang biasa yang masih baru aku kenal. Ia lebih terlihat rapi dengan gaya islaminya yang sedikit khas dengan jilbabnya yang rapi dan panjang, plus rok dan baju panjangnya, utamanya jika dalam keluarganya memang menggunakan asas tersebut.
Nah, satu ketertarikanku yang muncul atas dirinya yaitu softness attitude. Karena anak gaul Islam kali ya, makanya gayanya suka ngepas (pressed). Bukan karena pandai berdagang, tapi karena caranya yang dianggap simple dan sukses mengubah persepsi secara parsial, karena sistem parsial cenderung mudah dilakukan karena mendekatkan aspek yang kurang dipahamkan. (kalau ini soal teknis, bukan karena percintaan versi adat di bawah agama)
Khusus pada satu aspek terpenting, yakni pendekatan personal dan morfologi organel, ini terbilang sedikit berat karena masih tertutup untuk sebagian. Ya, aku masih paham soal sedemikian. Namun, patut disadari pula, jika menutup diri secara parsial memang tak semudah dan seindah harapan yang diinginkan. Butuh waktu untuk cooling down dan kembali mencari seluk-beluk tentang dirinya yang masih dapat diungkap, walau bukan untuk disebarkan secara luas.
Aku menganggap Vivin lebih cocok dengan sistem karakteristik yang aku inginkan, baik secara fisik dan batin maupun agama dan kultural. Karena satu sistem kali ya, jadi bisa terdifferensial sempurna dengan mudah. Pun, jika terkaanku benar kalau Vivin memang dapat menjadi sosok yang sederhana dan berkelas, mungkin sudah saatnya lebih megambil kesimpulan parsial sebelum terfinalisasi. Kalau ini mah bisa muncul impiann versi baru: andaikan seluruhnya terwujud dan resmi finish etape 2, boleh aja lari sekencang-kencangnya (udah sah ini katanya) lomba keluarga islami kelas menengah.
Sekilas harapan antara aku dengan Vivin Fauziah Ramadhani, yang sama-sama anak Minang (kecuali aku karena keturunan darah Ibu), plus anak Al-Fath juga yang sedikit dapat aku tuangkan dalam catatan kecil ini. Dengan impian yang mulai muncul, aku berharap tidak ada kongsi baru ketika aku dapat mengkhitbah dirinya dalam versi Agama dan adat, yang memang segiyanya dapat dilaksanakan dengan kekeluargaan.
Pun, dengan jujur aku dapat mengungkapkan sistem yang terjadi dalam rangkaian ini. Versinya adalah: “Setelah sistem differensial terbentuk secara simultan, aku harus memutuskan dua pilihan sebelum menentukan pilihan yang sebenarnya, sekalipun seluruhnya cukup berat untuk dijalankan.”

“Dengan pertimbangan yang cukup panjang dan kompleks, pilihan itu pun terkerucut pada dua insan yang aku anggap sejajar dan sedifferensial, yakni antara Meutia Qoonita Noviyani dan Vivin Fauziah Ramadhani“. “Aku sudah menganggap kewajaran hal ini karena memang dua perbedaan yang dapat dikatakan sedikit jauh bisa didekatkan dengan hampiran. Sejujurnya pula, hanya sedikit differensial yang aku temukan pada dua insan tersebut, yakni pengkolaborasian dan mengelaborasikan aspek dalam satu state.”

Jadi, kalau ada yang bertanya apa alasan inti aku memilih dua insan tersebut sebelum difinalisasi, sebenarnya hanya terpaut dengan pendekatan differensial. Bukan soal cantiknya atau karena pintar dan melihat dalam aspek materi, tapi karakter yang melekat dan konsistensi sikap yang tertanam, terutama soal differensialnya yang nyaris sempurna. Kalaupun diulangkan, mereka juga sama-sama cukup baik dan dapat diandalkan dalam segala sisi.

So that, it’s my main state to finish describe and design a circuit that have a path. In final state, only one that I choose at future to collaborate and elaborate all of our’s passion. 

Hanya dua jawaban ini yang akhirnya dapat aku differensialkan secara total karena hanya mengalami permisalan persamaan satu kali”. (karena cukup berat dijelaskan, jawabannya cari sendiri ya….)
Dan hanya usaha untuk memberanikan diri dan do’alah yang dapat melancarkan hal tersebut agar tidak menjadi persoalan yang pelik di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *